Jangan Takut, Kamu Gk Sendirian
Jangan Takut, Kamu Gk Sendirian
Retret, satu
kata yang sudah tidak asing lagi buat saya. Bersekolah di sekolah Katolik sejak
SD membuat saya sangat kenal dan bahkan sering mengikuti kegiatan retret. Sejak
SD hingga sekarang saya sudah mengikuti kurang lebih 6 kali retret dengan orang
dan suasana yang berbeda-beda. Mulai dari retret sekolah yang selalu diadakan
di tahun terakhir sampai retret yang diselenggarakan oleh gereja. Setiap retret
membawa kenangan tersendiri untuk saya entah karena orang-orangnya atau
kegiatannya.
Setiap kali saya
mendengar kata “retret” pikiran saya selalu terarah kepada yang namanya
refleksi, keheningan, religius, membosankan (kecuali kalau sama teman-teman
yang seru), doa, dan makanan enak. Satu hal yang selalu membuat saya menunggu
retret tentunya makanannya, memang terdengar aneh tapi setiap saya mengikuti
retret makanan yang dihidangkan tidak pernah tidak enak. Padahal makanan yang
dimasak juga pernah saya makan di Jakarta tapi selalu ada rasa yang khas jika
dimakan saat retret.
Tahun ini
merupakan tahun terakhir saya di SMA dan sudah menjadi kegiatan rutin bagi para
pejuang UNBK untuk mengikuti retret terlebih dahulu. Tahun ini, para pengurus
OSIS dijadwalkan untuk retret setelah progul selesai sehingga sebelumnya kami
bisa fokus mempersiapkan progul kami. Awalnya saya senang karena setelah progul
bisa beristirahat sejenak namun ketika melihat padatnya jadwal setelah progul
dan banyaknya pelajaran yang harus saya kejar membuat saya sedih harus
meninggalkan kelas selama 3 hari. Perasaan senang karena meninggalkan
kesibukkan dan kestressan kelas 12 tapi juga gelisah karena memikirkan sekolah.
Sekitar pukul
13.30 rombongan kami sampai di biara Ursulin yang terletak di Bandung. Biara
tua dengan pencahayaan yang sangat minim membuat bangunan ini memberikan
suasana menyeramkan dan tampak seperti rumah tak berpenghuni, tanpa disangka di
dalam biara ini sangat-sangat indah dan banyaknya pohon membuat suasana menjadi
tenang dan menyegarkan. Pandangan seperti ini jarang saya temukan ketika saya
berada di ibu kota, hal ini membuat saya sedikit melupakan segala tugas dan
hal-hal yang membuat saya penat.
Saya cukup kaget
ketika diberitahu bahwa acara akan dimulai 3 jam setelah saya sampai dan untuk
mengisi waktu luang itu saya diajak untuk berdoa di replica rumah Santa Angela.
Suster mengatakan jika kita berdoa
dengan tulus di tempat itu maka permohonan kita akan dikabulkan dan sigap semua
anak menuju ke tempat itu untuk berdoa. Selain itu saya juga bisa tidur siang
terlebih dahulu sebelum memulai acara. Acara dimulai dengan misa pembukaan dan
dilanjutkan dengan pembagian group dan dibacakan rundown acara selama 3 hari.
Dengan sangat gembira dan cukup terkejut mendengar rundownnya karena intensitas
makan dan tidur lebih banyak dibandingkan dengan session dan doa.
Retret kali ini
membuat saya mengerti rasa tenang yang sesungguhnya. Perasaan ini membuat saya berpikir
lebih jauh dalam menentukan pilihan. Tidur sendirian juga menjadi faktor
pendukung saya memiliki waktu untuk mengenal diri saya lebih dan bersyukur
terhadap hal-hal kecil dalam diri saya. Selain itu juga saya dapat memiliki
waktu untuk melakukan refleksi terhadap apa yang saya lakukan selama ini dan
mencoba untuk merancang masa depan saya. Satu hal yang saya rasakan saat retret
dan sulit ditemukan saat di Jakarta, yaitu kebersamaan. Kebersamaan dengan
teman-teman tanpa memegang gadget melainkan hanya dengan obrolan-obrolan aneh
tapi membuat tawa tulus keluar dari diri kami. Hal itu membuat saya merasakan
kebahagiaan dan meyakinkan saya bahwa saya harus bersyukur bisa mengenal mereka
dan menjadi bagian dari angkatan ini.





Comments
Post a Comment