Pewarna Kehidupan


Pewarna Kehidupan


Deb makan dimana” “deb udh belajar belom” “debpat hahahahahaha” “lu mau ikut gue gk” “deb ini gimana” “deb ini ngakak” “deb semangat” “deb lu kenapa” dan sebagai sebagainya. Iyaa, itu kata-kata yang hampir saya dengar selama 6 tahun di sekolah homogen ini. Di blog kali ini saya akan sedikit memperkenalkan mereka. Mereka yang menjadi pewarna di kehidupan monokrom saya. Mereka yang selalu punya cara tersendiri untuk membahagiakan saya. Mereka adalah keluarga kedua saya.




Awalnya, kehidupan SMA saya tidak semenyenangkan di sinetron atau film atau bahkan kehidupan SMA teman saya yang lain. Kehidupan SMA saya aneh. Kehidupan SMA saya? suram. Tapi, itu jika saya menjalaninya tanpa teman-teman saya. Saya bisa tetap bertahan sampai saat ini bukan karena saya hebat, tidak, saya tidak sehebat teman-teman saya. Bukan karena saya kuat juga, tapi karena teman-teman saya.


Sedikit cerita tentang kehidupan SMA saya, saat kelas 10 saya tidak mengikuti bimbingan belajar apapun, saya hanya belajar bersama teman saya dan saya bisa survive dengan cara itu. Saat memasukki kelas 11 saya terus menerapkan cara itu tapi ternyata saya gagal. Saya menganggap mudah semuanya. Saya lupa bahwa tugas saya di kelas 11 semakin bertambah. Sejak saat itu saya sangat kecewa dengan diri saya. Saya sudah berusaha tapi saya terus gagal. Saya belajar lebih keras tapi nilai saya tetap jatuh. Mungkin sebagian dari teman angkatan saya sudah bosan melihat saya menangis di sekolah. Saya juga menangis di rumah dan orang tua saya sampai menyuruh saya pindah sekolah. Iya separah itu, segila itu, seputus asa itu.


Saya sempat heran, mengapa saya bisa tetap kuat melewati kelas 11, mengapa saya tetap mau masuk sekolah, mengapa saya bisa melewati masa itu. Bisa dibilang itulah masa terpuruk saya. Dimana setiap hari saya hanya bisa menangis dan menangis. Saya baru sadar, ada mereka yang selalu membuka lebar tangan mereka di saat saya membutuhkan pelukan, ada yang selalu menopang pundak saya di saat saya terjatuh, ada jari yang selalu menghapus air mata saya, ada tangan yang selalu memegang pundak saya dan membuat saya tenang, ada mereka yang selalu mengeluarkan lelucon yang bisa membuat lengkungan di bibir saya kembali, ada mereka, mereka yang tidak pernah lupa mengingatkan saya kalau saya bisa.
Tidak bisa saya sebutkan satu persatu orangnya, terlalu banyak, banyak orang yang mungkin tidak secara langsung menyemangati saya tapi karena tingkah lakunya atau bahkan perkataannya membuat saya lebih semangat. Saya baru sadar bahwa angkatan saya luar biasa. Saya dikelilingi oleh wanita-wanita bertulang baja, wanita-wanita yang berapa kalipun berusaha dijatuhkan akan tetap berdiri tegak karena kami saling bergandengan tangan sambil menguatkan hati. Saya sadar, saya tidak pernah sendiri, saya ditemani oleh 221 orang-orang “gila” melewati beratnya kehidupan di Santa Ursula. Saya sangat amat bersyukur bisa menjadi bagian dari Sanur ’19. Kalian tau, apa yang selalu saya benci? Berpisah disaat sudah nyaman. Terimakasih sanur ’19. Terimakasih untuk sebagian orang yang hadir di hidup saya terutama orang-orang di foto ini. 

 “Bangunan tua ini
Menjadi saksi bisu
Dari kerja keras ribuan wanita
Yang saling menopang
Untuk tidak terjatuh terlalu dalam”

Comments

Popular posts from this blog

Indah Pada Waktunya

Andai

Jangan Takut, Kamu Gk Sendirian